5 Negara ‘Musuh’ Internet

https://i1.wp.com/images.detik.com/content/2013/07/12/398/laptop-iran.jpg
Internet bisa dibilang hak semua warga negara. Hanya saja dalam implementasinya, ada sejumlah negara yang kelewat ketat membuat aturan berinternet bagi rakyatnya.

Tak pelak, negara-negara ini disebut sebagai negara paling dimusuhi internet, demikian disebut En.rsf. org, sebuah lembaga internasional untuk jurnalis warga.

Berbagai alasan dijadikan tameng negara-negara ini untuk mengikat warganya agar tak bebas online. Pun demikian, tetap saja ada perlawanan dari para netter. Hingga akhirnya, ‘jalan tikus’ pun dipilih agar terbebas dari belenggu pemerintah.

Mau tahu negara-negara mana saja yang termasuk ‘musuh’ internet. Berikut di antaranya:

1. China

https://i1.wp.com/images.detik.com/content/2013/07/12/398/104631_china.jpg

Tidak usah dipertanyakan lagi, China merupakan negara terketat dalam memberlakukan penyaringan internet. Pemerintah Negeri Tirai Bambu sangat berhati-hati dalam memonitor perkembanganteknologi dan memastikan bahwa tidak ada celah untuk kebebasan berekspresi.

Meskipun memiliki jumlah blogger yang mencapai 17 juta orang, tetapi masih sedikit yang mengkritik pemerintah. Hal ini disebabkan China menyaring kata-kata yang subversif.

Selain itu, berbagai perusahaan yang menjalankan layanan di bidang internet, ditekan dengan kontrol konten yang ketat.

Bahkan, pemerintah mempekerjakan tentara untuk memoderatori konten-konten yang diproduksi oleh blogger. Hasilnya, sepanjang milenium ketiga ini, China telah menahan 77 pengguna internet.

 

2. Vietnam

https://i1.wp.com/images.detik.com/content/2013/07/12/398/104720_vietnam.jpg

Berbeda dengan China, Vietnam lebih halus dalam melakukan pengendalian terhadap berita dan informasi di negaranya. Bahkan, Vietnam tampak ragu-ragu dalam menindak pembangkangan yang terjadi di negaranya.

Beberapa pembangkangan cyber terjadi pada kisaran 2005 dan 2006. Dan sikap pemerintah yang tampaknya ‘bersabar’ ini, membawa angin segar bagi gerakan Pro-Demokrasi Vietnam yang menggunakan internet untuk mengorganisasikan dan menyebarkan berita-berita independen.

Bahkan, sebuah grup yang menamakan dirinya 8406 meluncurkan petisi online pada 2006 yang menuntut reformasi di bidang politik. Petisi ini ditandatangani ratusan orang yang menggunakan nama aslinya.

Gara-gara hal ini, 10 orang sempat ditahan atas apa yang mereka sampaikan di internet. Tentunya penahanan ini membuat netizen yang ditahan di Vietnam bertambah menjadi 18 orang selama kurun waktu 5 tahun terakhir.


3. Iran

https://i2.wp.com/images.detik.com/content/2013/07/12/398/104811_iran.jpg

Penindasan terhadap blogger di negara ini menurun pada 2006 setelah setahun sebelumnya menahan 20 orang pengguna internet. Meskipun begitu, penyaringan internet terus terjadi dan meningkat.

Bahkan, Iran mengklaim telah melakukan penyaringan terhadap 10 juta situs web, termasuk di dalamnya situs porno, politik, dan situs yang berhubungan dengan agama. Namun, pada 2006, sensor terkonsentrasi pada situs web yang mengangkat isu hak-hak wanita.

Bahkan pemerintah memutuskan untuk melarang koneksibroadband. Hal ini menjelaskan bahwa pemerintah mencegah pengguna internet di negaranya agar tidak mengunduh konten-konten barat seperti film dan lagu.

 

4. Syria

https://i2.wp.com/images.detik.com/content/2013/07/12/398/104849_syira.jpg

Syria merupakan penjara terbesar di Timur Tengah untuk para pembangkangcyber. Baru-baru ini, 3 orang ditahan karena melakukan kritik terhadap mereka yang berwenang di ranah online.

Ketiga tahanan tersebut disiksa dengan kondisi yang tidak manusiawi. Pemerintah setempat juga melarang akses terhadap situs-situs berbahasa Arab oposisi dan situs yang berkaitan dengan suku minoritas Kurdi, Syria.

 

5. Myanmar

https://i1.wp.com/images.detik.com/content/2013/07/12/398/104933_burma.jpg

Kebijakan internet pemerintah Myanmar lebih keras dibandingkan negara tetangganya, China dan Vietnam. Pemerintah Junta Militer dengan gamblang menyaring situs web pihak oposisi.

Pemerintah juga memonitor dengan ketat setiap aktivitas pengguna internet di warung internet di negara tersebut. Mereka menargetkan telepon internet dan layanan obrolanonlineserta memblokir Google Talks.

Hal ini mereka lakukan dengan alasan untuk mempertahankan keuntungan dari pasar telekomunikasi jarak jauh yang dikontrol pula oleh perusahaan negara. Pemerintah Myanmar juga pernah melakukan penahanan terhadap pengguna internet yang dianggap sebagai ancaman.

Sumber: http://inet.detik.com/

Categories: Pengantar Teknologi Informasi | Tags: | Leave a comment

Tips Memotret di Dalam Gua yang Gelap

https://i0.wp.com/images.detik.com/content/2013/05/07/1279/goa.jpgIlustrasi (Info Fotografi)
Jakarta – Memotret gua yang memiliki koleksi staglatit dan stalagmit tentunya sangat menarik. Stalagtit adalah batu kapur yang tumbuh dari bagian atas gua menuju ke dasar gua, sedangkan stalagmit tumbuh menjulang dari dasar gua ke atas.

Saat tur fotografi Vietnam – Ninh Binh – Ha Long Bay seminggu yang lalu, saya dan rombongan berkesempatan untuk mengunjungi gua Sung Sot yang terletak di badan gunung Karst di tengah Ha Long Bay.

ISO 1600, f/4, 1/15 detik – Seperti setting di luar angkasa.

Gua ini mengesankan dari bentuknya dan juga indah karena pencahayaannya yang ditata secara khusus dan berwarna-warni. Dengan pencahayaan yang baik, tekstur dari stalagtit dan stalagmitnya terlihat berdimensi.

Meskipun diberi cahaya, secara umum, pencahayaan di gua masih termasuk gelap. Maka dari itu, membutuhkan setting dan peralatan foto yang memadai. Idealnya kita membutuhkan tripod supaya mendapatkan hasil yang maksimal. Tapi jika tripod tidak memungkinkan atau terlalu merepotka, setting yang saya usulkan yaitu mengunakan ISO yang agak tinggi untuk mencegah shutter speed terlalu lambat.

Di gua Sung Sot ini, shutter speed 1/15 detik saya gunakan untuk mencegah foto menjadi blur akibat goyangan tangan saya. ISO ditingkatkan sesuai kondisi pencahayaan yang dibidik, kadang ISO 1600, kadang sampai ISO 4000. Saya memberikan tugas kepada fungsi AUTO ISO untuk mengatur ISO sehingga saya bisa berkonsentrasi untuk komposisi & framing fotonya.

Bukaan saya set ke maksimal lensa yaitu f/4 (kebetulan lensa saya maksimumnya di f/4). Terkadang saya mengunakan f/5.6 untuk ruang tajam yang lebih luas).

Untuk komposisinya, usahakan membingkai foto dengan cukup ketat, sehingga detailnya terlihat lebih jelas. Coba orientasi vertikal dan horizontal. Selain itu cari bentuk dan tekstur yang unik, misalnya mirip hewan, manusia atau benda yang familiar. Jika Guanya ramai dengan turis, hati-hati, jangan sampai turis-turis mendominasi (terlihat besar) dalam foto.

Berikut beberapa hasil foto di gua Sung Sot. Kalau ke Ha Long Bay jangan lupa berkunjung ke sini🙂

ISO 1600, f/4, 1/15 detik

ISO 2500, f/5.6, 1/15 detik – Mirip kepala dinosaurus ya?

Categories: Pengantar Teknologi Informasi | Tags: | Leave a comment

Mengatasi Masalah Lampu Kilat Kamera

https://i0.wp.com/images.detik.com/content/2013/06/19/1279/flashcamera.jpgIlustrasi (Ist)

Jakarta – Ada Pertanyaan yang cukup bagus dari pembaca Info Fotografi tentang lampu kilat (flash). Kurang lebih pertanyaannya seperti ini:

1. Mengapa saat mengunakan flash di tempat gelap (resepsi pernikahan), dalam ruangan, kadang hasil fotonya terang, kadang gelap?

Saat kondisi cahaya gelap, flash membutuhkan tenaga yang tinggi untuk menerangkan subjek dan ruangan. Sehingga membutuhkan “recycling time” yang cukup lama. Recycling time adalah waktu yang dibutuhkan oleh flash kembali pulih dan siap untuk menembakkan kekuatannya secara penuh. Kadang, waktu yang dibutuhkan 5-6 detik, tapi kadang bisa lebih cepat atau bahkan lebih lambat.

Kalau kita memotret dalam waktu berturut-turut dalam waktu cepat, misalnya setiap 3 detik (dibawah recycling time 5-6 detik), maka kekuatan flash akan lebih lemah daripada sebelumnya.

Cepat lambatnya recycling time ini tergantung kualitas flash yang dipasang di atas kamera. Contohnya, Lampu kilat kelas atas Nikon SB910 memiliki recycle time yang sangat singkat, yaitu 2 detik saat digunakan dengan kekuatan penuh. Baterai yang dipasang di kamera juga berpengaruh cukup besar. Sebaiknya mengunakan baterai yang rechargeable dan berkapasitas tinggi. Jika baterai sudah hampir habis, kinerjanya juga akan melambat.

2. ISO perlu dinaikkan tidak saat memakai flash?

ISO mempengaruhi kekuatan flash dan juga cahaya lingkungan (termasuk lampu dalam ruangan). Dengan menaikkan ISO, lampu kilat yang berkekuatan rendah dapat terbantu. Menaikkan ISO juga akan membuat cahaya lingkungan menjadi lebih terang. Jadi kalau memakai lampu kilat, ISO juga boleh dinaikkan jika dibutuhkan.

ISO 500, 1/200 detik, f/6.3 – ISO dinaikkan ke 500 untuk membantu kekuatan lampu kilat dan memasukkan cahaya lingkungan sehingga foto terlihat lebih alami. – Foto keluarga tur fotografi ke Pangalengan.

3. Mode kamera apa yang terbaik saat memakai lampu kilat: Manual, A/Av, S/Tv atau P?

Pada intinya, pakai mode apa juga baik, asal kita tau fungsi mode kamera masing-masing. Biasanya saya memakai mode manual saat memakai lampu kilat supaya saya bisa mengendalikan pencahayaan dengan lebih akurat sesuai keinginan saya.

Untuk bisa menentukan yang paling cocok buat masing-masing, saya anjurkan membaca dan mempelajari beberapa artikel dibawah ini:

1. Segitiga emas exposure

2. Memilih mode kamera

3. Tips-tips lampu kilat lainnya

Categories: Pengantar Teknologi Informasi | Tags: | Leave a comment

Foto Jelek? Jangan Langsung Dihapus!

https://i1.wp.com/images.detik.com/content/2013/06/17/1279/dsc021622.jpgIlustrasi (Info Fotografi)
Jakarta – Sebagai seorang pemula, wajar saja kalau setting-setting kamera untuk pengambilan gambar masih amburadul alias hancur.

Awal-awalnya, ketika hasil di layar LCD tidak sesuai dengan keinginan, tombolDELETE pun selalu kutekan. Alhasil, setiap pulang dari hunting, foto-foto saya cuma ada sedikit. Lebih banyak yang dihapus daripada yang tersisa.

Ternyata saya diberi pengertian bahwa jika ada foto-foto yang belum sesuai keinginan, jangan buru-buru dihapus dulu. Kadang editing dapat membantu menyelamatkan hasil foto (asalkan difoto dengan kualitas foto RAW).

Sejak saat itu, saya pun jarang mendelete foto. Foto tersebut saya hapus setelah ditinjau di pengolah foto Lightroom. Foto yang tidak berhasil diselamatkan pada akhirnya saya hapus.

Dibawah ini ada beberapa contoh foto yang berhasil diselamatkan:

Foto di Tamcoc, Vietnam, saya berupaya menyelamatkan detail langit agar tidak terlalu putih (terjadi highlight), akibatnya bagian bumi menjadi lebih gelap. Saat yang kontras seperti ini, saya biasanya lebih sering menyelamatkan daerah yang terang terlebih dahulu agar tidak tampak terlalu terang. Bagian yang gelap, kemudian akan saya bantu dengan menerangkannya di proses editing.

Ada lagi foto dengan langit yang terlalu terang, dapat dimunculkan kembali sebagian detail dan warna biru langitnya.

Categories: Pengantar Teknologi Informasi | Tags: | Leave a comment

Menyederhanakan Komposisi Foto dengan Isolasi

https://i2.wp.com/images.detik.com/content/2013/06/05/1279/dsc_6994dalem.jpg<Kabut secara alami membuat pohon-pohon terisolasi dari lingkungannya, ISO 500, f/4, 1/100 detik, 82mm>
Jakarta – Salah satu tujuan komposisi foto adalah mengorganisasikan elemen-elemen visual sehingga terkesan teratur, utuh dan harmonis. Masalahnya adalah dunia yang kita pandang jarang sekali teratur.

Di pasar misalnya, ada penjual, pembeli, barang dagangan, kendaraan dan banyak lagi. Jika kita memotret tanpa menghiraukan komposisi, foto kita akan terlihat berantakan. Yang melihat foto akan kebingungan mencari makna dari foto tersebut. “Apa ya yang ingin dikomunikasikan atau ditonjolkan dari foto tersebut?” demikian benak yang melihat fotonya.

Semakin sederhana komposisi foto, semakin mudah pemirsa mencerna apa yang kita ingin utarakan. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan supaya subjek foto menonjol. Pertama adalah dengan membuat latar belakang blur.

Cara termudah adalah dengan mengunakan lensa berbukaan besar, dan setting ke bukaan terbesar, contohnya f/1.4. Cara kedua adalah mengunakan lensa telefoto dan zoom sejauh mungkin. Letakkan subjek foto jauh dari latar belakangnya.

Cara yang tidak terlalu lazim yaitu membingkai foto dengan mengunakan bayangan, kabut, salju atau elemen lainnya. Tujuan dari semua ini adalah untuk membuat fokus pemirsa foto untuk tertuju ke subjek foto yang utama.


(Keterbatasan sensor kamera untuk menangkap perbedaan gelap terang di dalam dan di luar gua mengisolasikan perahu dengan lingkungan di luar gua. ISO 800, f/5.6, 1/400 detik, 70mm)


Cara ini tidak semudah cara pertama, dibutuhkan pengamatan yang lebih jeli, dan kadang-kadang dibutuhkan sedikit keterampilan teknis.

Misalnya menyetel kompensasi eksposur ke arah minus saat menggunakan bayangan untuk framing. Saat memakai jurus ini, fitur active D-lighting and auto optimizer harus dimatikan supaya daerah bayangan tidak terlalu terang (kecuali memakai setting image quality RAW).


(Penjala ikan ini terisolasi karena pemilihan latar belakang yang sederhana. Bukaan besar dan lensa telefoto juga membuat latar belakang menjadi kabur, ISO 6400, f/2.8, 1/250 detik, 200mm)

Olah digital juga memegang peran penting dalam mengisolasi sebuah foto. Misalnya menghilangkan sebagian pengganggu dengan teknik close/healing brush, atau cropping. Kita juga dapat menggelapkan dan menerangkan bagian-bagian foto supaya subjek utama terlihat lebih menonjol.

Jurus terakhir untuk mengisolasi subjek adalah dengan memanfaatkan shutter speed. Kita bisa mengunakan shutter speed yang relatif lambat seperti 1/30 detik kemudian mempanning kamera mengikuti arah subjek bergerak.


(Kapal merah kontras dengan lingkungannya yang bernuansa biru menjadikan kapal ini terisolasi dan menonjol, ISO 450, f/8, 1/320 detik, 200mm)

Teknik ini tidak mudah dan tidak selalu berhasil dengan baik. Yang paling mudah yaitu jika subjek foto melintas tegak lurus dibanding dengan kamera. Jika berhasil, subjek akan tajam sedangkan latar belakang akan kabur. Tapi kaburnya foto bukan karena bukaan besar, tapi dari pergerakan kamera.

Dengan berbagai cara di atas, kita dapat membuat foto yang lebih kuat dan enak dilihat. Silakan mencoba!

Categories: Pengantar Teknologi Informasi | Tags: | Leave a comment

Travel Portrait Photography: Mau Candid atau Permisi?

https://i0.wp.com/images.detik.com/content/2013/05/28/1279/dsc_6552dalem.jpgNenek di pinggir jalan ini mungkin kebingungan campur senang karena saya dan beberapa teman tertarik untuk memotretnya (Enche Tjin)
Jakarta – Travel portrait photography adalah salah satu jenis fotografi yang digemari karena sebuah portrait dapat bercerita banyak tentang penduduk lokal, dari ekspresinya, pakaian dan lingkungannya.

Ada beberapa pendekatan dalam memotret subjek yang tidak kita kenal, beberapa di antaranya adalah:

Candid

Di teknik ini, fotografer bertujuan membuat foto tanpa diketahui oleh orang yang dipotret. Teknik ini cocok diterapkan di tempat yang ramai seperti pasar, kota, acara, festival. Orang yang difoto secara candid cenderung tenggelam dalam pemikiran dan aktifitasnya sendiri.

Sebagian besar foto candid dibuat dengan lensa telefoto yang jangkauannya jauh. Lensa telefoto zoom populer seperti 55-200mm atau 70-200mm bisa membuat foto close-up dari jarak sekitar 5-10 meter dengan baik.

Dengan jarak sejauh itu, biasanya orang yang dipotret tidak mengetahui bahwa dirinya sudah menjadi objek foto asalkan kita cukup cepat untuk dipotret. Keuntungan dengan memakai lensa telefoto, kita bisa mengisolasi orang yang dipotret dengan lingkungannya. Latar belakang akan menjadi blur membuat karakter subjek foto lebih menonjol.

Tidak menutup kemungkinan untuk memotret candid dari jarak dekat menggunakan lensa lebar. Malahan merupakan teknik favorit saya yaitu dengan mengunakan lensa lebar karena terasa lebih dekat dan saya bisa memasukkan lebih banyak latar belakang atau suasana sekitarnya dengan lebih leluasa. Latar belakang akan memberikan konteks, menceritakan bagaimana kondisi lingkungan dimana orang tersebut berada.

Memotret dari jarak dekat dengan lensa lebar memerlukan nyali yang lumayan tinggi. Tidak semua fotografer merasa nyaman untuk mendekati orang asing dan memotretnya. Biasanya kekuatirannya adalah orang tersebut akan marah atau terganggu.

Menurut saya semuanya tergantung sikap kita. Jika orang-orang tersebut sedang beraktifitas dan tenggelam alam aktifitasnya, biasanya mereka tidak akan memperhatikan dan menyadari kehadiran kita. Saat itu adalah saat yang tepat untuk bergerak mendekati, jangan berisik dan melakukan hal-hal yang dapat mengganggu mereka.

Permisi

Cara lain yaitu mendekati mereka, meminta izin untuk memotret mereka. Cara ini lebih menantang, sulitnya bukan masalah meminta izinnya, tapi lebih ke sulit untuk menerima kalau kita ditolak.

Sebagian besar orang tidak suka kekecewaan karena ditolak, karena itu mereka memilih untuk tidak berinteraksi dan meminta. Saya sendiri sudah berulang kali ditolak, dengan berbagai alasan.

Biasanya penduduk lokal merasa mereka tidak fotogenik, ada yang merasa tua, ada yang merasa pakaian yang dikenakan mereka kurang bagus dan sebagainya. Mereka juga bingung, mengapa kita ingin memotret mereka, padahal mereka bukan artis, selebriti.

Saya senang memotret penduduk yang sedang bekerja atau beraktifitas, tapi mereka saat bekerja, pakaian mereka kotor dan berantakan.

Setiap tempat berbeda-beda penduduknya. Ada yang suka dipotret, ada juga yang tidak suka. Salah satu tempat yang penduduknya suka dipotret adalah India. Ada yang tidak peduli dipotret, misalnya di Jepang, dan ada juga yang tidak suka difoto, seperti di Hongkong.

Saat berpergian, penting juga bagi kita mencari informasi bagaimana keramahan penduduk setempat. Jangan sampai kita terkejut atau tidak siap dengan reaksi
penduduk setempat. Bisa-bisa kita kehilangan semangat memotret.

Daripada mendekati orang asing lalu langsung meminta izin untuk memotret, lebih baik kita ngobrol-ngobrol dulu dengan calon subjek. Pembicaraan bisa apa saja, dari menanyakan tentang apa yang mereka lakukan, apa kesenangan/hobi, keluarga atau kebiasaan dan adat istiadat mereka.

Seringkali, mereka juga penasaran dengan kita dan menanyakan tentang asal kita dan tujuan ke sana. Dengan mengobrol beberapa menit dengan mereka, kita dapat membuat mereka nyaman dan setelah nyaman, mereka lebih terbuka dan ramah.

(Setelah sempat berinteraksi dengan tetua penjaga rumah adat ini melalui pemandu lokal, tetua ini lebih terbuka dan ramah ekspresinya)

Kemungkinan mereka untuk menolak permintaan kita juga menjadi lebih kecil. Lagian tidak ada salahnya untuk mengenal lebih kebiasaan atau kebudayaan setempat
dengan mengobrol dengan mereka. Yang penting adalah kita menghormati kebudayaan mereka dengan tidak mengkritisi kebudayaan mereka meskipun terdengar aneh dan sangat berbeda dengan kebudayaan kita.

Sebagai bonus, kita bisa menambah teman kita saat travel. Lumayan bukan?

Categories: Pengantar Teknologi Informasi | Tags: | Leave a comment

Memotret Saat Berkabut

https://i0.wp.com/images.detik.com/content/2013/06/20/1279/dsc_7074dalem.jpg(Kabut di pagi hari ISO 100, f/8, 1/160 detik, 70mm)
Jakarta – Kabut itu sering dibenci, tapi juga sering diharapkan. Memotret pemandangan kabut itu dibenci karena membuat pemandangan tidak jelas, saturasi warna rendah, dan datar.

Di lain pihak, kabut juga diharapkan saat memotret pemandangan di pagi hari, karena memberikan kesan misterius.

Kabut biasanya muncul di daerah pegunungan/perbukitan. Saat sore hari, semakin sore, akan semakin berkabut dan akan bertahan sampai malam.

(Kabut di sore hari. Pohon yang dekat terlihat tajam, semakin jauh letak pohon berikutnya, semakin buram, mengesankan efek ruang/dimensi. ISO 500, f/4.0, 1/100 detik, 82mm)

Di pagi hari, kabut akan muncul kembali dan kemudian akan menghilang saat matahari sudah cukup tinggi sekitar jam 9 pagi.

Memotret di saat berkabut jauh berbeda dengan saat kondisi cerah. Perlu strategi untuk menghasilkan foto yang menarik.

Pada dasarnya pencahayaan saat lingkungan berkabut adalah pencahayaan yang lembut. Di dalam studio, sifat cahayanya seperti yang dihasilkan oleh softbox berukuran besar. Bayangan menjadi halus dan tidak jelas.

Memotret saat berkabut juga bisa mengecoh lightmeter kamera. Karena sifat kabut yang memantul/reflektif, maka kamera bisa merasa kondisi lingkungan cerah, sehingga hasil foto menjadi agak gelap.

Jika kita memakai mode kamera A/Av, P, atau S/Tv, jangan lupa mengunakan kompensasi eksposur sekitar +1 stop.

Meskipun hal-hal di atas sepertinya merupakan hal yang negatif, tapi kabut dapat menimbulkan kesan misterius dan membangun suasana foto yang dingin dan menarik.

(Kabut di sore hari yang cukup pekat. Saya tertarik dengan bentuk pohon ini dan bayangan dua pohon yang lebih kecil di kejauhan. Warna biru ditambahkan untuk memberikan suasana dingin. White Balance 3000K, ISO 250, f/5, 1/160 detik. 70mm)

Kabut dapat mengisolasi subjek foto, subjek foto menjadi jelas, dan latar belakang menjadi kabur. Kabut membuat pemandangan terlihat lebih tiga dimensi dan berlapis-lapis.

Subjek yang dekat terlihat jelas dan tajam, semakin jauh subjeknya, semakin kabur.

Kita bisa memanfaatkan sifat ini untuk keuntungan kita. Setidaknya, ada subjek yang dekat, dan ada yang menengah dan ada yang jauh. Dengan demikian, ruang dimensi foto akan terjaga.

Kabut juga punya sifat menyebarkan cahaya, jadi saat ada sinar yang mengenai kabut, cahaya akan menyebar dan membuat efek yang sering disebut ROL (Ray of Light).

Cahaya ini biasanya ditemui di pagi hari saat matahari terbit dan memberikan efek dramatis ke subjek dan keseluruhan pemandangan.

Teknik slow speed dapat membantu untuk membuat penampilan kabut menjadi mulus. Saat memakai shutter speed lambat, tentunya lebih baik mengunakan tripod untuk mencegah foto kabur karena getaran tangan kita.

Jika tidak membawa tripod, pilihan shutter speed yang cukup cepat lebih baik meskipun resikonya noise bisa muncul karena kondisi cahaya lingkungan yang biasanya sudah agak gelap.

Begitulah sekilas info tentang motret kabut. Jika menemui kabut, tetaplah berpikir positif dan manfaatkan kabut untuk membuat foto yang menarik.

Categories: Pengantar Teknologi Informasi | Tags: | Leave a comment

Memotret Sunrise, Sunset dan Twilight

https://i0.wp.com/images.detik.com/content/2013/07/03/1279/sunrise.jpg
Jakarta –

Memotret sunrise dan sunset (sebenarnya gak ada bedanya dari sisi fotografi, yang beda cuma sunrise lebih dingin dan sepi daripada sunset, dan yang satu terbit dan yang lainnya tenggelam he he he).

Persiapan yang dibutuhkan tentunya adalah memeriksa lokasi di hari sebelumnya, arah matahari dan sebagainya. Peralatan utama yang dibutuhkan adalah kamera, tripod, dan senter.

Setelah tiba di lokasi, hal yang pertama dilakukan tentunya mencari lokasi yang bagus dan aman untuk memotret. Setelah ketemu, baru pasang kamera di tripod.

Kalau bisa jangan kebalikannya, kalau keburu pasang tripod dulu biasanya kita sudah malas bergerak mencari posisi yang lebih bagus.

Mode dan setting exposure kamera

Mode kamera yang saya gunakan adalah mode manual (M). Pastikan AUTO ISO dalam kondisi OFF. Rugi dong, kalau ternyata AUTO ISO kamera memilih ISO yang terlampau tinggi karena mendeteksi pencahayaan yang gak begitu terang.

Setelah itu saya akan set ISO rendah, sekitar 100/200 (tergantung kamera masing-masing). Dengan ISO rendah, kualitas fotonya paling bagus.

Bukaan favorit saya adalah sekitar f/8 sampai f/16. Dengan bukaan yang relatif kecil, ruang tajam menjadi besar dan pemandangan yang luas bisa tajam semua.

Setelah itu, saya tinggal atur shutter speed sampai lightmeter jatuh di titik nol saat saya menekan setengah tombol shutter/jepret. Biasanya shutter speed akan jatuh lebih lambat dari satu detik sesaat sebelum matahari terbit.

(Sumber bacaan: Untuk mengenal istilah fotografi seperti mode kamera, ISO, bukaan dll silahkan mampir ke halamantop post kategori dasar fotografi)

Untuk fokusnya, saya mencoba autofokus, tapi kalau langit masih gelap dan kamera gagal mengunci fokus, saya akan set lensa/kamera ke manual fokus, dan mengunakan live view (komposisi dengan layar LCD) dan kemudian mencari fokus dengan memutar barrel fokus di lensa.

Lalu saya akan mengambil test shot, kalau terlalu terang atau gelap, saya akan ganti nilai shutter speednya supaya hasilnya sesuai keinginan saya.

Asyiknya kamera digital jaman sekarang memberikan hasil foto langsung di layar LCD jadi tidak ada salahnya mencoba-coba setting yang berbeda-beda.

Idealnya mengunakan self-timer atau exposure delay supaya saat kita menekan tombol shutter, kamera tidak goyang dan hasil foto tajam. Remote dan cable release, dua aksesoris pembantu dapat membantu.

Kalau pemandangannya mencakupi sesuatu yang bergerak, contohnya ada orang seperti nelayan, fotografer, satwa, dll, maka shutter speednya gak boleh terlalu lambat (lebih dari satu detik) karena subjek yang bergerak itu akan tidak tajam.

Kalau bisa, kita gunakan shutter speed cukup cepat, contohnya 1/15 detik atau kalau bisa 1/100 detik lebih ideal lagi. Untuk mendapatkan shutter speed cepat tanpa membuat hasil foto gelap, naikkan nilai ISOnya.

Filter atau tidak?

Filter seperti GND (graduated neutral density) biasanya digunakan untuk menyeimbangkan pencahayaan langit dan bumi saat sunset dan sunrise.

Saya sendiri sukanya tidak mengunakan filter GND dan membiarkan bagian foreground gelap/siluet. Supaya kesannya lebih alami dan bentuk-bentuknya lebih menonjol.

Alasan lain adalah tanah di tepi danau itu kotor, banyak sampah plastik bekas turis. Dan alasan lainnya, filter GND repot dipasang dan yang berkualitas tinggi cukup mahal dan mudah rusak.

Alternatif lain jika ingin langit dan buminya seimbang yaitu mengaktifkan fitur yang dinamakan Active D Lighting (Nikon), Auto lighting optimizer (Canon). Ada juga kamera yang kini memiliki fitur Built-in HDR. Saat fitur ini aktif, kamera akan otomatis membuat dua gambar dan menggabungkannya langsung menjadi satu.

Cara lainnya yaitu membuat dua atau lebih dari dua foto yang terang gelapnya berbeda-beda lalu menggabungkannya dengan software pengolah HDR seperti Photomatix atau Photoshop CS.Saat mengunakan teknik HDR, kita wajib mengunakan tripod supaya foto akhir tidak berbayang dua.

Keterangan foto di atas

Foto di atas saya buat saat tur fotografi di daerah Pangalengan, Jawa Barat. Pagi-pagi sekitar jam 5.30 WIB. Saat ini biasanya disebut twilight hour / blue hour, menjelang matahari terbit.

Secara komposisi saya mencoba membuat komposisi yang seimbang dengan adanya dua pohon disebelah kiri dan kanan. Siluet fotografer dan perahu diseimbangkan dengan dua perahu di sebelah kanan. Lensa lebar digunakan untuk membuat kesan luas berdimensi.

ISO 200, f/8, 1/2 detik, 16mm, kamera full frame (10mm untuk kamera bersensor APS-C),krop dengan aspek rasio 16:9

Saya mengunakan ISO 200 supaya saya bisa mendapatkan shutter speed 1/2 detik, cukup supaya orang-orang ditepi danau tidak blur, dan kualitas foto masih terjaga.

Keterangan foto dibawah

Foto di bawah kondisi sudah sangat gelap karena matahari sudah tenggelam sekitar jam 18.15. Untuk membekukan gerakan nelayan yang sedang menjala ikan, saya mau gak mau harus pakai shutter speed tinggi.

Caranya saya naikkan ISO ke 6400 kemudian gunakan bukaan terbesar, yaitu f/1.4. dan dari dua setting tersebut, saya mendapatkan shutter speed 1/125 detik. Lumayan untuk membekukan subjek foto.

Selain nelayan, saya memasukkan elemen foreground yaitu pohon di tepi waduk Jatiluhur. Lampu-lampu kuning dan refleksinya dari seberang waduk yang memberikan efek visual tambahan yang menurut saya cukup menarik.

ISO 6400, f/1.4, 1/125 detik, 85mm (di full frame, kira-kira 60mm di sensor APS-C), krop dengan aspek rasio 16:9

Sumber: http://inet.detik.com/

Categories: Pengantar Teknologi Informasi | Tags: | Leave a comment

Tips Membuat Foto Terlihat Dramatis dengan Photoshop

https://i2.wp.com/images.detik.com/content/2013/06/12/1353/daelm.jpg
1. Buka foto yang ingin diubah. Kali ini saya akan membuka foto human interest karena prosedur ini biasanya memberikan hasil yang bagus.

2. Di Bagian layers, duplikat layer background dengan klik kanan dan pilih “Duplicate Layer”

3. Di menu, pilih Filter > Other > High Pass, pilih radius sekitar 3-6 pixel, semakin besar radius pixelnya efeknya makin dramatis.

4. Pilih mode blending layers ke Overlay

5. Duplikat layer Background lagi, lalu klik, tahan layer baru itu dan geser ke paling atas


6. Di menu, pilih adjustment > desaturate

7. Pilih mode blending layer hard light (biasanya cocok untuk portrait human interest), dan (soft light, lebih cocok untuk pemandangan).

8. Setelah puas dengan hasilnya, di menu > layers > flatten images

9. File > Save🙂

Contoh foto lain:

Categories: Pengantar Teknologi Informasi | Tags: | Leave a comment

Apakah Virus Komputer Bisa Berjalan Tanpa Internet?Apakah Virus Komputer Bisa Berjalan Tanpa Internet?

https://i2.wp.com/images.detik.com/content/2013/06/18/1440/virus1.jpg
Jakarta – Saya mau tanya, apakah virus pada komputer dapat berjalan atau aktif meskipun internet sedang dalam keadaan mati (selain memperlambat kinerja komputer), seperti mencuri data?

Lalu saya punya komputer, masalahnya ketika menyalakan komputer harus mengatur tanggal di BIOS, kira-kira apa saja masalah dan penyebabnya, lalu bagaimana cara mengatasinya?(komputer saya masih windows XP). Terima Kasih

Jawaban [Vaksincom]:

Saya asumsikan komputer Anda memang selalu offline atau terhubung ke jaringan lokal yang tidak pernah terhubung ke internet. Walaupun internet sedang dalam keadaan mati virus komputer tetap dapat menjalankan aksinya yang lain seperti :

1. Menyebarkan dirinya melalui Flash Disk / piranti dara USB lainnya.

2. Menyebarkan dirinya melalui jaringan internal (intranet).

3. Menyembunyikan file.

4. Mengenkripsi file supaya anda tidak bisa baca dan meminta tebusan uang untuk mendekripsi file.

5. Menghancurkan file

6. Aksi lain yang tidak berhubungan dengan pencurian data yang memerlukan koneksi dengan C&C (Command Center) di Internet.

Jika Anda harus mengubah tanggal di BIOS setiap kali menyalakan komputer kemungkinan besar baterai BIOS kamu sudah soak / rusak. Harap ganti baterai BIOS di motherboard Anda.

Categories: Pengantar Teknologi Informasi | Tags: | Leave a comment

Blog at WordPress.com.