Memotret Saat Berkabut

https://i0.wp.com/images.detik.com/content/2013/06/20/1279/dsc_7074dalem.jpg(Kabut di pagi hari ISO 100, f/8, 1/160 detik, 70mm)
Jakarta – Kabut itu sering dibenci, tapi juga sering diharapkan. Memotret pemandangan kabut itu dibenci karena membuat pemandangan tidak jelas, saturasi warna rendah, dan datar.

Di lain pihak, kabut juga diharapkan saat memotret pemandangan di pagi hari, karena memberikan kesan misterius.

Kabut biasanya muncul di daerah pegunungan/perbukitan. Saat sore hari, semakin sore, akan semakin berkabut dan akan bertahan sampai malam.

(Kabut di sore hari. Pohon yang dekat terlihat tajam, semakin jauh letak pohon berikutnya, semakin buram, mengesankan efek ruang/dimensi. ISO 500, f/4.0, 1/100 detik, 82mm)

Di pagi hari, kabut akan muncul kembali dan kemudian akan menghilang saat matahari sudah cukup tinggi sekitar jam 9 pagi.

Memotret di saat berkabut jauh berbeda dengan saat kondisi cerah. Perlu strategi untuk menghasilkan foto yang menarik.

Pada dasarnya pencahayaan saat lingkungan berkabut adalah pencahayaan yang lembut. Di dalam studio, sifat cahayanya seperti yang dihasilkan oleh softbox berukuran besar. Bayangan menjadi halus dan tidak jelas.

Memotret saat berkabut juga bisa mengecoh lightmeter kamera. Karena sifat kabut yang memantul/reflektif, maka kamera bisa merasa kondisi lingkungan cerah, sehingga hasil foto menjadi agak gelap.

Jika kita memakai mode kamera A/Av, P, atau S/Tv, jangan lupa mengunakan kompensasi eksposur sekitar +1 stop.

Meskipun hal-hal di atas sepertinya merupakan hal yang negatif, tapi kabut dapat menimbulkan kesan misterius dan membangun suasana foto yang dingin dan menarik.

(Kabut di sore hari yang cukup pekat. Saya tertarik dengan bentuk pohon ini dan bayangan dua pohon yang lebih kecil di kejauhan. Warna biru ditambahkan untuk memberikan suasana dingin. White Balance 3000K, ISO 250, f/5, 1/160 detik. 70mm)

Kabut dapat mengisolasi subjek foto, subjek foto menjadi jelas, dan latar belakang menjadi kabur. Kabut membuat pemandangan terlihat lebih tiga dimensi dan berlapis-lapis.

Subjek yang dekat terlihat jelas dan tajam, semakin jauh subjeknya, semakin kabur.

Kita bisa memanfaatkan sifat ini untuk keuntungan kita. Setidaknya, ada subjek yang dekat, dan ada yang menengah dan ada yang jauh. Dengan demikian, ruang dimensi foto akan terjaga.

Kabut juga punya sifat menyebarkan cahaya, jadi saat ada sinar yang mengenai kabut, cahaya akan menyebar dan membuat efek yang sering disebut ROL (Ray of Light).

Cahaya ini biasanya ditemui di pagi hari saat matahari terbit dan memberikan efek dramatis ke subjek dan keseluruhan pemandangan.

Teknik slow speed dapat membantu untuk membuat penampilan kabut menjadi mulus. Saat memakai shutter speed lambat, tentunya lebih baik mengunakan tripod untuk mencegah foto kabur karena getaran tangan kita.

Jika tidak membawa tripod, pilihan shutter speed yang cukup cepat lebih baik meskipun resikonya noise bisa muncul karena kondisi cahaya lingkungan yang biasanya sudah agak gelap.

Begitulah sekilas info tentang motret kabut. Jika menemui kabut, tetaplah berpikir positif dan manfaatkan kabut untuk membuat foto yang menarik.

Categories: Pengantar Teknologi Informasi | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: