Travel Portrait Photography: Mau Candid atau Permisi?

https://i0.wp.com/images.detik.com/content/2013/05/28/1279/dsc_6552dalem.jpgNenek di pinggir jalan ini mungkin kebingungan campur senang karena saya dan beberapa teman tertarik untuk memotretnya (Enche Tjin)
Jakarta – Travel portrait photography adalah salah satu jenis fotografi yang digemari karena sebuah portrait dapat bercerita banyak tentang penduduk lokal, dari ekspresinya, pakaian dan lingkungannya.

Ada beberapa pendekatan dalam memotret subjek yang tidak kita kenal, beberapa di antaranya adalah:

Candid

Di teknik ini, fotografer bertujuan membuat foto tanpa diketahui oleh orang yang dipotret. Teknik ini cocok diterapkan di tempat yang ramai seperti pasar, kota, acara, festival. Orang yang difoto secara candid cenderung tenggelam dalam pemikiran dan aktifitasnya sendiri.

Sebagian besar foto candid dibuat dengan lensa telefoto yang jangkauannya jauh. Lensa telefoto zoom populer seperti 55-200mm atau 70-200mm bisa membuat foto close-up dari jarak sekitar 5-10 meter dengan baik.

Dengan jarak sejauh itu, biasanya orang yang dipotret tidak mengetahui bahwa dirinya sudah menjadi objek foto asalkan kita cukup cepat untuk dipotret. Keuntungan dengan memakai lensa telefoto, kita bisa mengisolasi orang yang dipotret dengan lingkungannya. Latar belakang akan menjadi blur membuat karakter subjek foto lebih menonjol.

Tidak menutup kemungkinan untuk memotret candid dari jarak dekat menggunakan lensa lebar. Malahan merupakan teknik favorit saya yaitu dengan mengunakan lensa lebar karena terasa lebih dekat dan saya bisa memasukkan lebih banyak latar belakang atau suasana sekitarnya dengan lebih leluasa. Latar belakang akan memberikan konteks, menceritakan bagaimana kondisi lingkungan dimana orang tersebut berada.

Memotret dari jarak dekat dengan lensa lebar memerlukan nyali yang lumayan tinggi. Tidak semua fotografer merasa nyaman untuk mendekati orang asing dan memotretnya. Biasanya kekuatirannya adalah orang tersebut akan marah atau terganggu.

Menurut saya semuanya tergantung sikap kita. Jika orang-orang tersebut sedang beraktifitas dan tenggelam alam aktifitasnya, biasanya mereka tidak akan memperhatikan dan menyadari kehadiran kita. Saat itu adalah saat yang tepat untuk bergerak mendekati, jangan berisik dan melakukan hal-hal yang dapat mengganggu mereka.

Permisi

Cara lain yaitu mendekati mereka, meminta izin untuk memotret mereka. Cara ini lebih menantang, sulitnya bukan masalah meminta izinnya, tapi lebih ke sulit untuk menerima kalau kita ditolak.

Sebagian besar orang tidak suka kekecewaan karena ditolak, karena itu mereka memilih untuk tidak berinteraksi dan meminta. Saya sendiri sudah berulang kali ditolak, dengan berbagai alasan.

Biasanya penduduk lokal merasa mereka tidak fotogenik, ada yang merasa tua, ada yang merasa pakaian yang dikenakan mereka kurang bagus dan sebagainya. Mereka juga bingung, mengapa kita ingin memotret mereka, padahal mereka bukan artis, selebriti.

Saya senang memotret penduduk yang sedang bekerja atau beraktifitas, tapi mereka saat bekerja, pakaian mereka kotor dan berantakan.

Setiap tempat berbeda-beda penduduknya. Ada yang suka dipotret, ada juga yang tidak suka. Salah satu tempat yang penduduknya suka dipotret adalah India. Ada yang tidak peduli dipotret, misalnya di Jepang, dan ada juga yang tidak suka difoto, seperti di Hongkong.

Saat berpergian, penting juga bagi kita mencari informasi bagaimana keramahan penduduk setempat. Jangan sampai kita terkejut atau tidak siap dengan reaksi
penduduk setempat. Bisa-bisa kita kehilangan semangat memotret.

Daripada mendekati orang asing lalu langsung meminta izin untuk memotret, lebih baik kita ngobrol-ngobrol dulu dengan calon subjek. Pembicaraan bisa apa saja, dari menanyakan tentang apa yang mereka lakukan, apa kesenangan/hobi, keluarga atau kebiasaan dan adat istiadat mereka.

Seringkali, mereka juga penasaran dengan kita dan menanyakan tentang asal kita dan tujuan ke sana. Dengan mengobrol beberapa menit dengan mereka, kita dapat membuat mereka nyaman dan setelah nyaman, mereka lebih terbuka dan ramah.

(Setelah sempat berinteraksi dengan tetua penjaga rumah adat ini melalui pemandu lokal, tetua ini lebih terbuka dan ramah ekspresinya)

Kemungkinan mereka untuk menolak permintaan kita juga menjadi lebih kecil. Lagian tidak ada salahnya untuk mengenal lebih kebiasaan atau kebudayaan setempat
dengan mengobrol dengan mereka. Yang penting adalah kita menghormati kebudayaan mereka dengan tidak mengkritisi kebudayaan mereka meskipun terdengar aneh dan sangat berbeda dengan kebudayaan kita.

Sebagai bonus, kita bisa menambah teman kita saat travel. Lumayan bukan?

Categories: Pengantar Teknologi Informasi | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: